Makalah Pemikiran Pendidikan Islam

Pendidikan Islam:

Pengertian ,  ruang lingkup, dan  Epistemologinya

Oleh

 

 

Sahri

  1. A.   Latar belakang

Untuk itu  perlu usaha keras  untuk  menggali meneliti dan menemukan  konsep  pendidikan  Islam itu sendiri  pada tataran  ontology, epistemology dan aksiologi agar  bangunan  Pendidikan  Islam  dapat  dipertanggungjawabkan  dan  kokoh, jika mungkin.

Belum lagi istilah  Pendidikan  Islam itu sendiri masih multi tafsir,apakah ; Pendidikan (menurut) Islam, Pendidikan (dalam) Islam atau Pendidikan (agama ) Islam.

Untuk itu dalam makalah ini ada beberapa masalah yang akan diangkat  antara lain;

  1. Apa  pengertian  Pendidikan  Islam ?.
  2. Dimanakah  ruang lingkup  Pendidikan Islam?.
  3. Bagaimanakah  Epistemology Pendidikan Islam?
    1. A.   Pembahasan  Masalah

Pendidikan  Islam dalam  tafsir  pendidikan  (menurut) Islam  adalah suatu pandangan yang didasari pengertian  bahwa Islam  adalah ajaran  tentang nilai- nilai  dan norma-norma  kehidupan yang ideal, yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. [1]Dalam hal ini pendidikan menurut Islam, dapat dipahami  sebagia ide-ide, konsep-konsep , nilai-nilai dan norma-norma kependidikan, sebagaimana yang dapat dipahami  dan dianalisis serta dikembangkan  dari sumber otentik ajaran Islam, yaitu  al-Qur’an dan al-Sunnah.

Pendidikan  Islam  dalam tafsir  pendidikan (dalam ) Islam  berdasarkan sudut pandang , bahwa  Islam adalah ajaran-ajaran, system budaya  dan peradaban yang tumbuh  dan berkembang  serta didukung oleh umat Islam  sepanjang sejarah , sejak zaman Nabi  SAW,sampai masa sekarang .Dari sini kita dapat  pahami  bahwa  pendidikan dalam Islam  adalah “proses dan praktek  penyelenggaraan pendidikan  dikalangan umat Islam yang berlangsung secara  berkesinambungan  dari generasi ke generasi dalam  rentangan sejarah Islam”.[2]

Pendidikan  Islam  dalam arti  penyelenggara   lembaga pendidikan  Islam  adalah  pendidikan yang diselengaraka  oleh  individu, organisasi massa  Islam, yayasan dan sebagainya seperti  al-Khaerat, DDI,Muhammadiyah, NU  dll.

Pendidikan Islam dalam  arti pewarisan ajaran Islam, dalam kenyataan  dapat dilihat  dari pendekatan  kurikulum, maka yang dimaksud  dengan pendidkan Islam adalah pendidikan  Islam yang diselenggarakan oleh  madrasah diniyah dan pondok pesantren. Sebab hanya di kedua kelembagaan inilah kurikilum agama Islam dilaksanakan  secara utuh. Kurikulum dikedua lembaga tersebut  hanya terdiri dari ilmu-ilmu keislaman yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah, serta kitab-kitab Islam  klasik. Kementrian Agama juga menyelenggarakan  pendidikan dengan lembaganya  yaitu jenjang pendidikan rendah(madrasah ibtidaiyah),menengah (madrasah tsanawiyah dan aliyah),  dan perguruan tinggi (Institut Agama Islam dan Sekolah tinggi agama Islam), Yang kurikulumnya adalah asimilasi  kurikulum sekolah umum sepenuhnya dan ilmu-ilmu Islam ( Bah. arab, fiqh, Aqidah Ahlaq,  qur’an hadis, dan ski).

Pendidikan  Islam  di Indonesia  sangat  beragam , menurut Karel Adrian  Steenbrink  perubahan dan perkembangan pendidikan Islam  di Indonesia atas  dasar kebutuhan zamannya.[3]

Hal tersebut juga tergambar dalam  pergulatan pemikiran pendidikan  antara  mempertahankan  pola lama yang asli ( pondok pesantren ) yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam klasik dan mengikuti perkembangan  ilmu pengetahuan dan sains dengan melakukan pembaharuan diberbagai bidang.

Alasan pembaharuan  yang mengarah pada  muatan kurikulum , bentuk lembaganya menghasilkan  bentuk-bentuk lembaga seperti ; madrasah, sekolah Islam[4] dan pondok pesantern  yang memasukkan ilmu-ilmu umum ( sains ) bahkan  pondok modern  gontor  mewajibkan  santri secara  aktif dapat menguasai  bahasa inggris[5], tentu hal ini dimaksud mengejar ketertinggalan  dari kemajuan bangsa –bangsa eropa  yang didukung oleh kemampuan dalam bidang  sains dan teknologi dengan berusaha tidak sampai kehilangan  jati diri sebagai muslim.

Pedidikan Islam modern menurut Hasan  Langgulung  mengacu pada dua pola , yaitu bersifat asimilatif dan adoftif. Pola pertama dilakukan dengan cara mengasimilasi  sisitem pendidikan  Islam  dengan system pendidikan barat, sedang yang kedua  adalah dengan mengadobsi system pendidikan barat  kedalam system pendidikan Islam.[6]Perubahan seperti ini menurut  winarno Surachmad merupakan perubahan  yang bersifat  meliorisme, maksudnya bahwa perubahan dibidang pendidikan belum menyentuh perubahan yang  mendasar.[7]

Untuk mendefinisikan  pendidikan Islam  perlu mengkaji kembali pendidikan Islam pada  tataran ontologis agar dapat  melakukan  perumusan  dan jati diri pendidikan Islam  dalam arti pendidikan ( menurut ) Islam, hal ini penting untuk menghindari ketimpangan-ketimpangan  dalam melakukan perubahan-perubahan dalam pendidikan Islam, sebagaiman  terlihat dalam beragamnya lembaga-lembaga pendidikan yang mengatasnamakan  pendidikan Islam. Dilain pihak hal ini juga penting untuk membedakan  dengan  konsep  pendidikan barat yang jelas-jelas berangkat  dari  filsafat  sekuler  yang berpusat  pada  antroposentris ( kafir)[8] yang nyata-nyata  bertentangan  dengan konsep tauhid Islam yang harus menjadi kerangka  seluruh usaha pendidikan  menjadikan  manusia mu’min.

Karena  obyek dan subyek pendidikan adalah manusia , maka pencarian makna realitas penciptaan manusia( tataran ontology) menurut Islam harus dirumuskan dengan pendekatan yang juga telah baku dalam tradisi Islam (metode deduktif) yaitu,

  1. Pendekatan kewahyuan ( al-Qur’an dan al-Hadis ) dari sisi tekstual dan  kontekstual.
  2. Empirik keilmuan dan rasional  filosofis yang hanya di gunakan  untuk menalar pesan-pesan Tuhan  yang absolute, baik melalui ayat-ayatnya yang bersifat tekstual ( al-Qur’an dan al-Hadis ), maupun ayat-ayatnya yang bersifat kontekstual( kauniyah ).[9]

Pendekatan-pendekatan di atas berangkat dari kebenaran berpusat pada  Tuhan ( teosentris ) , sarat etik ,yang berbeda sekali dengan konsep barat ( sekuler ), netral etik, kebenaran berpusat pada manusia (antroposentris ). Demikian pula  titik berangkatnya  pendekatan Islam dari suatu kebenaran yang diyakini( diimani) yang berbeda sekali dengan konsep barat( sekuler ), titik berangkatnya dari ketidak percayaan.

a)    Istilah manusia  dalam al-Qur’an

Ada  tiga kata  yang digunakan  al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia.

1)    Menggunakan kata yang terdiri  dari huruf alif, nun, dan sin semacam insan, ins, nas, atau unas.

2)    Menggunakan kata  basyar.

3)    Menggunakan kata bani adam, dan zuriyat adam.[10]

Meskipun  ketiga kata tersebut  menunjuk pada kata manusia, namun secara khusus memiliki penekanan  pengertian  yang berbeda.

Kata Basyar

Kata al-basyar  dinyatakan dalam al-Qur’an   sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surah.[11]Kata basyar  terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan  sesuatu dengan baik dan indah . Dari  akar kata yang sama lahir  kata basyarah  yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyar  karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda  dengan kulit binatang  yang lain.[12]

Al-Qur’an menggunakan kata ini  sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk musanna( dual) untuk menunjukkan manusia dalam bentuk lahiriahnya  serta persamaannya  dengan manusia seluruhnya. Karena itu Nabi Muhammad Saw. Diperintahkan untuk menyampaikan bahwa,

10.  Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.[13]

Dari sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat  al-Qur’an  yang menggunakan kata basyar  yang mengisyaratkan bahwa  proses kejadian manusia  sebagai basyar , melalui  tahap-tahap  sehingga mencapai tahap kedewasaan.

20.  Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.[14]

Bertebaran  dapat diartikan  berkembang biak akibat hubungan seks  atau bertebaran mencari rezeki. Kedua hal ini tidak dilakukan  oleh manusia kecuali oleh orang yang yang memiliki kedewasaan  dan tanggungjawab. Karena itu pula  Maryam  as. Mengungkapkan  keherananya  dapat memperoleh anak padahal dia belum pernah  disentuh  oleh basyar ( manusia dewasa yang mampu berhubungan seks).

47.  Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin Aku mempunyai anak, padahal Aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah Hanya cukup Berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia.

Dengan demikian tampak bahwa kata basyar  dikaitkan dengan kedewasaan  dalam kehidupan manusia , yang menjadikan mampu  memikul tanggung jawab . Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan  dibebankan  kepada basyar.

Dengan pemaknaan yang diperkut ayat diatas, dapat dipahami bahwa seluruh  manusia ( bani Adam a.s) akan mengalami proses reporoduksi seksual dan senantiasa  berupaya untuk memnuhi semua kebutuhan biologisnya , memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk  terhadap hokum alamiahnya , baik yang berupa sunnatullah ( social kemasyrakatan ), maupun taqdir Allah ( hokum alam ). Semuanya itu merupakan konsekwensi logis dari proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk itu Allah memberikan  kebebasan dan kekuatan kepada manusia sesuai dengan batas kebebasan dan potensi yang dimilikinya untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta , sebagai salah satu tugas kekhalifahannya dimuka bumi.

Kata al-Insan

Kata al-Insan  berasal dari kata al-Uns, dinyataka dalam al-Qur’an  sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.[15] Secara  etimologi , al-Insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa.  Kata al-insan  digunakan  al-Qur’an untuk menunjukan totalitas manusia sebagai makhluk  jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut- dengan berbagai potensi yang dimilikinya-mengantarkan manusia sebagai mahluk Allah yang unik dan istimewa, sempurna, dan memiliki  diferensiasi individual antara satu dengan yang lain, dan sebagai mahluk dinamis , sehingga mampu menyandang predikaet khalifah  Allah di muka bumi.

Perpaduan antara aspek fisik dan psikis telah mambantu manusia  untuk mengekspresikan dimensi al-Insan al-Bayan, yaitu sebagai mahluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban , dan lain sebagainya.

Kata  al-Nas

Kata al-Nas  dinyatakan dalam al-Qur’an  sebanyak  240 kali  dan tersebar dalam 53 surat .[16] Kata  al-nas menunjukkan  pada eksisitensi manusia sebagai mahluk  social secara keseluruhan , tanpa melihat status  keimanan  atau kekafirannya.

Kata  Bani Adam

Kata  bani adam  dijumpai dalam al-Qur’an   sebanyak 7 kali  dan tersebar   dalam 3 surah . secara  etimologi , kata bani adam menunjukan arti pada  keturunan Nabi Adam a.s.

Menurut al-Thabathaba’I, penggunaan kata bani adam menunjuk pada arti  manusia secara umum. Dalam hal ini ada tiga aspek yang dikaji, yaitu:

1)    Anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, diantaranya  adalah dengan berpakain  guna menutup auratnya.

2)    Mengingatkan kepada keturunan Adam agar jangan terjerumus  pada bujuk rayu syetan  yang mengajak kepada keingkaran.

3)    Memanfaatkan semua yang ada  dialam semesta dalam rangka ibadah  dan mentauhidkan-Nya.[17]

Kesemua itu merupakan anjuran  sekaligus peringatan Allah, dalam rangka  memuliakan  keturunan  Adam dibanding  mahluknya  yang lain.

b)    Proses penciptaan manusia  dalam al-Qur’an.

Al-Qur’an  menyatakan  proses penciptaan manusia  dalam dua tahapan yang berbeda , yaitu:

1)    Tahapan primordial

2)    Tahapan  biologi

Tahapan primordial  yaitu penciptaan manusia pertama Adam a.s.  diciptakan  dari al-tin( tanah),  al-turab ( tanah debu), min sal( tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah seindah-indahnya, kemudian Allah mmeniupkan ruh dari-Nya kedalam diri( manusia) tersebut.

…Allah berfirman dalam Q.S. Al-An’am/ 6:2.

  1. Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).[18]

…Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hijr / 15:26.

26.  Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

27.  Dan kami Telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

28.  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,

29.  Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud[796].

[796]  dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

Penciptaan  manusia pada tahapan biologi  dapat dipahami secara  sains empiric. Didalam proses ini , diciptakan  dari inti saripati  tanah yang dijadikan air mani ( nutfah ) yang tersimpan  dalam tempat yang kokoh ( rahim ). Kemudian  nutfah  itu dijadikan  darah beku ( ‘alaqah ) yang menggantung dalam rahim. Darah beku kemudian  dijadikan  daging( mudgah ) dan kemudian dibalut dengan tulang  belulang  lalu  kepadan ya ditiupkan ruh.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Mu’minun/ 23:12-14.

12.  Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13.  Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14.  Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.[19]

Dalam hadis yang diriwayatkan  buhari dan muslim dinyatakan  bahwa ruh  dihembuskan Allah SWT kedalam  janin  setelah ia mengalami  perkembangan  40 hari nutfah, 40 hari ‘alaqah, 40 hari mudgah.

Berdasarkan  proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh  antara komponen  materi dan inmateri .Komponen materi  berasal dari tanah , komponen inmateri  ditiupkan  oleh Allah.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Sajdah /32 :7.

7.  Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.[20]

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Hijr /15 :29

29.  Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud[796].

[796]  dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

Menurut Harun Nasution, unsur  materi manusia mempunyai daya fisik , seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak. Sementara itu unsure inmateri mempunyai dua daya , yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat di kalbu.[21]

Konsep ini membawa konsekuensi  bahwa secara filosofis  pendidikan merupakan kesatuan pendidikan  Qalbiyah ,‘Aqliyah dan jismiyah  agar  tercipta  manusia-manusia yang memiliki kepribadian  yang utuh  sesuai dengan filsafat penciptaanya.

c)             Fungsi penciptaan manusia dalam al-Qur’an.

Allah swt  menciptakan manusia  bukan main-main , tetapi dengan suatu tujuan dan fungsi  tertentu.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Mu’minun /23 :115

115.  Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?[22]

Secara  umum  tujuan dan fungsi  penciptaan manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua ,yaitu;

1)    Khalifah

Manusia diciptakan sebagai pengemban amanat(Q.S. al-Ruum /32 :72). Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia  adalah memakmurkan kehidupan  di bumi.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Huud /11 :61

  1. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”[23]

[726]  Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

Karena  amat muliannya  manusia  sebagai pengemban  amanat Allah, maka manusia  diberi  kedudukan sebagai khalifah-Nya  dimuka bumi.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah /2 :30

30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[24]

MenurutAhmad Mustafa al-Maraghi, kata  khalifah  dalam ayat ini memiliki dua makna. Pertama , adalah pengganti , yaitu pengganti Allah SWT untuk melaksanakan titahNya di muka bumi.Kedua, manusia adalah pemimpin  yang kepadanya diserahi tugas  untuk memimpin dirinya dan makhluk lainnya serta memakmurkan  dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.[25]Karenanya , manusia diharapkan  mampu mempertahankan martabatnya  sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk  kkepadaNya  dan tidak tunduk kepada alam semesta.

2)    ‘Abd ( Hamba Allah )

Konsep ‘abd mengacu  pada tugas-tugas  individual manusia sebagai hamba Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian  ritual kepada Allah SWT dengan  penuh keikhlasan.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Zariyat /51 :56

56.  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[26]

Pemenuhan fungsi ini memerlukan penghayatan  agara  seorang  hamba sampai  pada tingkat  religiusitas dimana tercapainya kedekatan  diri dengan Allah SWT. Bila tingkat ini  berhasil diraih, maka seorang hamba akan bersikap tawadu’, tidak arogan  dan akan senantiasa  pasrah pada  semua titah perintah Allah SWT(tawakkal).

Pandangan  diatas  merupakan visi filosofis dan antropologis yang dinukilkan  Allah dalam  al-Qur’an  yang telah mendudukan  manusia dialam semesta ini ke dalam dua fungsi pokok , yaitu khalifah dan ‘abd. Pandangan  kategorikal  demikian  tidak mengisyaratkan  suatu pengertian  yang bercorak dualism dikotomik, tetapi menjelaskan  muatan fungsional  yang harus diemban  manusia dalam melaksanakan  tugas- tugas kehidupannya  dan  kesejarahan  di muka bumi.Dua fungsi tersebut adalah suatu  satu kesatuasn yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Agar manusia mampu melaksanakan  tugas dan fungsi penciptaannya , maka manusia  dibekali  oleh Allah SWT dengan berbagai potensi atau kemampuan. Menurut Hasan Langgulung  potensi dan kemampuan tersebut adalah  sifat- sifat Tuhan  yang hanya diberikan kepada  manusia  yang tersimpul dalam al-Qur’an sebagai al-asma al-husna dalam bentuk dan cara yang terbatas.[27] Realisasi adalah dalam bentuk “Takhalluq bi akhlakillah “  (berakhlaklah  dengan akhlak Allah).[28]

Implikasi konsep Manusia  dalam  Pendidikan Islam.

Berdasarkan  filsafat  penciptaan manusia  dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta, paling tidak ada dua implikasi  terpenting  dalam hubungannya  dengan pendidikan Islam , yaitu:

  1. Karena manusia  adalah makhluk  yang merupakan resultan dari dua komponen ( materi dan inmateri ), maka konsepsi itu menghendaki  proses pembinaan  yang mengacu kearah  relisasi  dan pengembanagan komponen –komponen tersebut. Hal ini berarti  bahwa sisitem pendidikan Islam harus dibangun di atas  konsep kesatuan  ( integrasi ) antara pendidikan Qalbiyah dan ‘Aqliyah  sehingga mampu menghasilkan  manusia  muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara  moral.Jika  kedua komponen ini terpisah  dalam proses kependidikan Islam, maka manusia akan kehilangan keseimbangan  dan tidak akan pernah menjadi pribadi –pribadi yang sempurna( al-Insan al-Kamil ).[29]
  2. Al-Qur’an  menjelaskan  bahwa fungsi penciptaan manusia dialam ini  adalah sebagai Khalifah dan ‘Abd . Untuk  melaksanakan  fungsi ini  Allah SWT. Membekali manusia  dengan seperangkat  potensi. Dalam konteks ini , maka pendidikan Islam  harus merupakan upaya  yang ditujukan  kearah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga mampu mewujudkan  dalam bentuk kongkrit, dalam arti  berkemampuan  menciptakan sesuatu yang bermanfaat  bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi  fungsi dan tujuan  penciptaannya, baik sebagai khalifah dan ‘abd

Analisis Pendidikan Islam dalam  Istilah  Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dib

Secara etimologis, kata tarbiyah  berasal dari  kata  dan mengandung makna dasar  sebagai berikut :

  1. Berasal dari kata dasar  “ rabaa – yarbuw “ yang berarti tumbuh dan bertambah atau berkembang.
  2. Berasal dari kata dasar “ rabiya-yarbaa”, yang berarti tumbuh dan menjadi  besar atau menjadi dewasa.
  3. Berasal dari kata dasar “rabba-yarubbu”,yang berarti memperbaiki, mengatur, mengurus, mendidik.

Mengambil  pengertian  dari makna dasar  dan kata dasar tarbiyah tersebut, maka istilah tarbiyah  yang ekuivalen denga istilah pendidikan , mempunyai pengertian  sebagai ,”usaha atau proses  untuk menumbuh kembangkan  potensi pembawaan atau fitrah anak  secara berangsur-angsur dan bertahap sampai mencapai tingkat kesempurnaanya dan mampu melaksanakan  fungsi dan tugas – tugas hidup dengan sebaik-baiknya.”[30]

Penggunaan  term al-Tarbiyah untuk  menunjuk makna  pendidikan Islam dapat juga dipahami dengan merujuk firman  Allah.

 …Allah berfirman dalam Q.S. al-Israa’ /17 :24

24.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”.[31]

Sedangkan istilah ta’lim yamg biasa diterjemahkan dengan” pengajaran” dan dianggap ekuivalen dengan  istilah” instruction”dalam sisitem pendidikan barat modern, mempunyai asal kata dan makna dasar sebagai berikut:

  1. Berasal dari kata dasar “’alama – ya’lamu”, yang berarti  mengecap atau member tanda.
  2. Berasal dari kata dasar “ alima- ya’lamu”, yang berarti  mengerti  atau memberi tanda.

Dengan kedua makna dasar tersebut , maka istilah ta’lim( pengajaran ) mempunyai pengertian: “usaha untuk menjadikan seseorang ( anak) mengenal tanda-tanda yang membedakan sesuatu dengan yang lainnya, dan mempunyai pengetahuan dan pemahaman  yang benar tentang sesuatu”,atau “ usaha untuk mendorong dan mengerakkan daya jiwa atau akal seseorang untuk belajar ( menuntut ilmu, agar sampai pada kesimpulan, iide ( gagasan) dan hakekat  yang sebenarnya tentang sesuatu”[32]. Penggunaan  term al-Ta’lim untuk  menunjuk makna  pengajaran Islam dapat juga dipahami dengan merujuk firman  Allah.

…Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah /2 :151

151.  Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Adapun istilah  ta’dib yang biasa  diterjemahkan  dengan “pelatihan”  atau “pembiasaan”, mempunyai  kata dan makna dasar  sebagai berikut :

  1. Berasal dari kata  dasar “aduba-yadubu”, yang berarti : melatih  dan disiplin  diri untuk berperilaku  yang baik dan sopan santun,.
  2. Berasal dari kata dasar “addaba-yadibu”,yang b erarti  mengadakan pesta  atau penjamuan
  3. Dan kata “addaba”, sebagai bentuk kata kerja  dari kata”tadib”, mengandung arti mmendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin dan member tindakan.

Sementara itu kata “ adab” yang mempunyai hubungan konotatif dengan istilah tadib secara khusus mempunyai pengertian  secara definitive sebagai berikut:

  1. disiplin jiwa melalui pendidikan  dan pengajaran  untuk memperoleh perilaku yang diharapkan.
  2. Kondisi yang menyebabkan  akal pikiran manusia  terdorong  untuk mengamalkan  pengetahuan  yang diperolehnya.
  3. Usaha  untuk menciptakan situasi  dan kondisi sedemikian rupa , sehingga anak terdorong  dan tergerak jiwa dan hatinya untuk berperilaku  dan beradab atau sopan santun yang baik sesuai dengan yang diharapkan”[33].

Penggunaan  term al-Ta’dib untuk  menunjuk makna  pengajaran Islam dapat juga dipahami dengan hadis Nabi.

“Tuhan telah mendidikku , maka ia sempurnakan pendidikanku”.( H.R. al-‘askary dari ‘ali r.a. )[34]

Pada konferensi dunia tentang pendidikan Islam  yang pertama di mekkah  tahun 1977, memberikan rekomendasi  tentang pengertian  tentang pendidikan Islam sebagai berikut:

the meaning of educational  in it totality in the context of Islam is inheren in the connotation  of the terms tarbiyah, taklim, and tadib taken together. What each of these terms conveys cocrening  man  and his society  and environment in relation to God is related to the others, and together they represent  the scope of education in Islam, both formal and nono formal”[35].

Konferensi tersebut merekomendasikan  pengertian pendidikan Islam  dalam arti yang luas  didalamnya tercakup  secara terpadu  konsep tarbiyah, taklim, tadib.

Menurut  Ahmad D. Marimba ; pendidikan Islam  adalah bimbingan  atau pimpinan  secara sadar oleh pendidik  terhadap perkembangan jasmani dan rohani  peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama( insane kamil).[36]

Dari pengertian-pengertian pendidikan Islam yang telah ditinjau dari tataran ontologis dan istilah tarbiyah, ta’lim ,tadib dan pendapat –pendapat dari para  ahli, menurut penulis Pendidikan Islam adalah  usaha bimbingan(tarbiyah,talim,tadib) yang dilakukan dengan sengaja oleh perseorangan atau kelompok atau lingkungan  kepada anak didik agar dapat tumbuh dan berkembang  seluruh potensinya(qalbiyah ,aqliyah, jismiyah )secara optimal  agar dapat mengemban tugas  kekhalifahan dan  sekaligus  ‘abd.

Ruang lingkup pendidikan Islam

Merujuk pada hakekat  pendidikan Islam yang tidal lain adalah realisasi  fungsi rububiyah  Allah terhadap manusia  dalam rangka menyiapkan  dan membimbing serta mengarahkanya, agara nantinya mampu melaksanakan  tugas kekhalifahan  sekaligus abd dimuka bumi  dengan sebaik-baiknya, maka sudah menjadi tugas dan tanggung jawab manusia ( orang tua dan generasi tua  pada umumnya) untuk melaksanakan  tugas tersebut yang meliputi  empat cakupan  yang menjadi ruang lingkup pendidikan Islam.[37]

  1. Tahap Takhliq ( tahap konsepsi ), yaitu tahap atau proses terbentuknya  struktur dan kerangka serta kelengkapan-kelengkapan  dasar ciptaan maupun potensi-potensi pembawaan manusia (anak) , atau potensi fitrah , sehingga tahap ini dapat dikatakan  sebagai tahap pembentukan potensi fitrah.

Pada tahap ini, fungsi kependidikan Islam ialah mempersiapkan segala sesuatu  yang memungkinkan dan diperlukan untuk terbentuknya  anak/generasi  baru yang sehat dan memiliki potensi fitrah yang murni dan kuat. Sehingga tugas kependidikan  adalah menjaga  dan mengarahkan  agar proses penciptaan  generasi baru tersebut secara alami ( menurut sunnatullah) dan tidak melanggar batas-batas  dan ketentuan yang Allah tetapkan. Dalam hal ini ada dua ketentuan hokum yang harus diperhatikan , yaitu:(1).hukum yang berhubungan dengan makanan , sebagai pembentuk sel tubuh, dan (2) hokum yang berhubungan  dengan pernikahan  yang melegalisasi proses pemebentukan janin. Ruang lingkup pendidikan  Islam  pada tahap ini adalah: pendidikan  seksual( gizi dan reproduksi) atau tarbiyah syahwaniyah, pendidikan  kesehatan dan jasmani atau tarbiyah jismiyah, pendidikan fiqh(munakahat).

  1. Tahap Taswiyah ( tahap penyempurnaan ), yaitu proses tumbuh kembangnya  potensi fitrah anak secara bertahap  dan berangsur-angsur sampai sempurna. Dalam tahap ini , secara umum fungsi kependidikan Islam adalah mempersiapkan  kondisi  dan situasi  serta memberikan perlakuan  dan tindakan yang diperlukan  agar seluruh potensi  fitrah  anak dapat tumbuh kembang  dan actual secara fungsional, sehingga anak mampu hidup dalam dan meneyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat  dan lingkungannya. Untuk itu fungsi kependidikan  pada tahap ini meliputi tugas: (1) pemberian dan pemenuhan  segala kebutuhan hidup anak, baik fisik(makan, gerak, istirahat, dan sebagainya) maupun psikhis ( rasa aman, kasih saying, dan sebagainya).(2) Pemberian kesempatan dan fasilitas yang seluas-luasnya kepada anak untuk secara intensif mengenal , berkomunikasi, baik fisik, psikhis, social dan budayanya, agar  semua aspek( qalbiyah, aqliyah dan jismiyah) dapat tumbuh kembang. Ruang lingkup pendidikan Islam pada tahap ini adalah  pendidikan keimanan( tarbiyah imaniyah),pendidikan al-quran, Pendidikan ibadah, pendidikan moral(tarbiyah kkhuluqiyah),pendidikan jasmani( tarbiyah jismiyah), pendidikan rasio (tarbiyah  aqliyah), pendidikan kejiwaan (tarbiyah  nafsiyah), Pendidikan sosial kemasyarakatan(tarbiyah ijtimaiyah) .
  2. Tahap Taqdir( tahap penentuan), yaitu tahap /proses  tumbuh kembang  potensi individual  yang akan menentukan kapasitas dan kapabilitas  serta kualitas masing-masing , yang sekaligus menunjukkan dan menentukan  pembagian bidang tugas , kewenangan dan tanggung jawab masing-masing  dalam kehidupan masyarakat.

Pada tahap ini fungsi kependidikan Islam adalah mempersiapkan  segala kondisi dan situasi serta mmemberikan perlakuan  dan tindakan yang diperlukan agar semua potensi , bakat dan minat individual yang ada pada setiap anak bisa tumbuh kembang  secara optimal,   dan mengarahkannya secara fungsional pada bidang tugas  dan lapangan kerja yang sesuai dengan kapasitas, kapabilitas  dan kualitas masing-masing. Dengan demikian tugas dan ruang lingkup kependidikan Islam pada tahap ini  menghendaki pendidikan yang bersifat kejuruan, keahlian dan profesionalisme dalam semua bidang kehidupan.

  1. Tahap Hidayah, yaitu proses pengarahan  dan bimbingan agar setiap orang mampu  melaksanakan  tugas-tugas  hidupnya sesuai dengan bidang tugas  masing-masing secara efektif dan untuk merealisasikan fungsi kekhalifahan .

Epistemologi Pendidikan  Islam.

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan  dengan hakekat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian , dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban  atas pernyataan  mengenai pengetahuan yang dimiliki.[38]

Epistemologi  berasal dari kata yunani , episteme dan logos, episteme  artinya  pengetahuan atau kebenaran, dan logos artinya  teori. Secara etimologi  dapat diartikan  teori pengetahuan yang benar( theory of knowledge).[39]Istilah  epistemology  dipakai pertamakali  oleh J.F.Feriere yang maksudnya  untuk membedakan antara dua cabang  filsafat , yaitu epistemology dan ontology. Kalau ontology pertanyaan pokoknya adalah  apakah hal yang ada itu ?,kalau dalam epistemology pertanyaan pokoknya adalah  apakah yang dapat saya ketahui?.[40]

Secara sederhana epistemology dapat diartikan sebagai “ilmu yang membahas  tentang keaslian , pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu”.[41]

Dalam kaitannya dengan epistemology pendidikan Islam pertanyaannya adalah apakah yang dapat diketahui dari pendidikan Islam dan bagaimanakah metodenya (cara) untuk mengetahuinya?. Permasalahan ini sangat urgen bila diperhadapkan pada kondisi   kini dimana epistemology barat (sekuler/antroposentris) sengaja atau tidak kita pakai dalam  mendidik manusia muslim  yang jelas-jelas konsep keimanan adalah hal yang pokok( teosentris/full etic) dalam tujuan mensejahterakan kehidupan manusia lahir dan batin, dunia dan akherat melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam kenyataan konteks di Indonesia ,modernism dan modernisasi  sisitem dan kelembagaan pendidikan Islam berlangsung sejak awal abad ini hingga sekarang nyaris tanpa melibatkan wacana epistemology, modernism dan modernisasi  system kelembagaan pendidikan Islam cenderung diadopsi dan diimplementasikan  begitu saja . Karena itu ,modernism dan modernisasi system kelembagaan  pendidikan Islam  di Indonesia  berlangsung secara sementara dan parsial.Sebab itulah , modernisasi yang dilakukan kemudian cenderung bersifat involutuf; yakni sekedar perubahan-perubahan  yang hanya memunculkan kerumitan-kerumitan  baru dari pada terobosan-terobosan yang betul-betul bisa dipertanggungjawabkan, baik dari segi konsep maupun viabilitas, kelestarian dan kontinuitasnya.[42]

Kenyataan inilah  sehingga memunculkan  persoalan  menyangkut identitas  atau “distingsi” Islam pada madrasah-madrasah  pasca UUSPN 1989. Karena madrasah adalah sekolah umum, lalu dimanakah identitas Islamnya?. Identitas itu tidak memadai  jika hanya terletak  pada guru-gurunya yang memulai pelajaran  dengan ucapan  “basmallah”dan “salam”, atau adanya  musalla dan fasilitas keagamaan lainnya. Konsekuensinya , identitas  itu harus dicari  dan dirumuskan  pada tingkat epistemology  dan juga aksiologis  ilmu-ilmu yang diajarkan di madrasah. Jika demikian  pekerjaan rumah  yang tidak ringan adalah  bagaimana persisnya dan sepatutnya  secara epistemology menjelaskan “ilmu-ilmu empiris”atau “ilmu-ilmu  alam” dari kerangka epistemology Islam.

Menurut penulis hal ini adalah suatu keharusan, jika kita ingin menjadikan ilmu pengetahuan  dapat mensejahterakan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan sains sekarang ini samapai pada taraf yang tidak manusiawi lagi, bahkan cenderung memperbudak manusia  sendiri yang telah merencanakan  dan menghasilkannya,  mengancam keamanan manusia dalam bidang persenjataan , menghabiskan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui, dalam bidang kedokteran  yang telah mengubah batas-batas paling pribadi, perkembangan ekonomi yang mengakibatkan melebarnya jurang antara yang kaya dan yang miskin.[43] Menurut  Gregory Bateson , permasalahan ini disebabkan oleh kesalahan epistemology barat yang sekuler  berpusat pada pemuasan nafsu yang dibangun  dari empirisme, duniawi, humanistic, utiliter dan hedonistic.

Untuk itu Pendidikan Islam harus dapat menjadi antithesis dari kesalahan epistemology barat tersebut.ayat-ayatnya yang bersifat tekstual ( al-Qur’an dan al-Hadis ), maupun ayat-ayatnya yang bersifat kontekstual( kauniyah ).[44]

Jadi berangkatnya  epistemology pendidikan Islam  dari suatu keyakinan keimanan kepada  Allah SWT. yang telah memberikan wahyu  kepada Rasul Muhammad  SAW. untuk kebahagiaan umat manusia di dunia dan kehidupan di akherat.  Sehimgga al-Qur’an  dan al-Hadis  merupakan kebenaran itu sendiri yang akan diakomodasikan  dalam perumusan teori-teori pendidikan . Adapun  kajian empiris keilmuan dan rasional filosofis adalah media untuk menalar pesan-pesan Tuhan yang absolute, baik melalui ayat –ayat  yang bersifat tekstual (al-Qur’an dan al-Hadis ),maupun ayat-ayatNya yang kontekstual( kauniyah) yang telah dijabarkan  melalui sunnatullah.

Dengan  metode kewahyuan , empiric  obyek kajian pendidikan Islam dapat dibagi menjadi tiga  wilayah :

  1. Pendidikan Islam  sebagai suatu sisitem ilmu.

Pendidikan  Islam  sebagai suatu ilmu pengetahuan   adalah semesta ide-ide, gagasan dan pemikiran  tentang pendidikan Islam  yang direpresentasikan  mmenurut aturan  dan kaidah-kaidah tertentu secara sistematis dan metodologis(kewahyuan  dan empiric).

  1. Pendidikan Islam  sebagai suatu proses  belajar mengajar.

Pendidikan  Islam sebagai suatu proses belajar mengajar mengarah kepada pengertian kajian pendidikan Islam  yang memfokuskan  diri menelaah  apa, bagaimana dan kemana tujuan proses pendidikan , serta unsure –unsur apa saja yang ikut mempengaruhi penyelenggaraannya.

  1. Pendidikan Islam sebagai suatu lembaga/institusi penyelenggara pendidikan.

Unsur terpenting  dalam  konteks kelembagaan , pendidikan Islam mengarah pada  wujud material yang mengalami atau mampu melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Keluarga, sekolah, lingkungan, masyarakat dan tempat-tempat peribadahan.

Kesimpulan

  1. Pendidikan Islam adalah  usaha bimbingan(tarbiyah,talim,tadib) yang dilakukan dengan sengaja oleh perseorangan atau kelompok atau lingkungan  kepada anak didik agar dapat tumbuh dan berkembang  seluruh potensinya(qalbiyah ,aqliyah, jismiyah )secara optimal  agar dapat mengemban tugas  kekhalifahan dan  sekaligus  ‘abd.
    1. Pendidikan Islam yang tidal lain adalah realisasi  fungsi rububiyah  Allah terhadap manusia  dalam rangka menyiapkan  dan membimbing serta mengarahkanya, agara nantinya mampu melaksanakan  tugas kekhalifahan  sekaligus abd dimuka bumi  dengan sebaik-baiknya, maka sudah menjadi tugas dan tanggung jawab manusia ( orang tua dan generasi tua  pada umumnya) untuk melaksanakan  tugas tersebut yang meliputi  empat cakupan  yang menjadi ruang lingkup pendidikan Islam.

1)    Tahap Takhliq ( tahap konsepsi ) Ruang lingkup pendidikan  Islam  pada tahap ini adalah: pendidikan  seksual( gizi dan reproduksi) atau tarbiyah syahwaniyah, pendidikan  kesehatan dan jasmani atau tarbiyah jismiyah, pendidikan fiqh(munakahat).

2)    Tahap Taswiyah ( tahap penyempurnaan ), Ruang lingkup pendidikan Islam pada tahap ini adalah  pendidikan keimanan( tarbiyah imaniyah),pendidikan al-quran, Pendidikan ibadah, pendidikan moral(tarbiyah kkhuluqiyah),pendidikan jasmani( tarbiyah jismiyah), pendidikan rasio (tarbiyah  aqliyah), pendidikan kejiwaan (tarbiyah  nafsiyah), Pendidikan sosial kemasyarakatan(tarbiyah ijtimaiyah) .

3)    Tahap Taqdir( tahap penentuan), ruang lingkup pendidikan Islam pada tahap ini  menghendaki pendidikan yang bersifat kejuruan, keahlian dan profesionalisme dalam semua bidang kehidupan.

4)    Tahap Hidayah, yaitu proses pengarahan  dan bimbingan agar setiap orang mampu  melaksanakan  tugas-tugas  hidupnya sesuai dengan bidang tugas  masing-masing secara efektif dan untuk merealisasikan fungsi kekhalifahan .

  1. Epistemologi Pendidikan Islam  dibangun  dengan pendekatan yang juga telah baku dalam tradisi Islam (metode deduktif) yaitu,

1)    Pendekatan kewahyuan ( al-Qur’an dan al-Hadis ) dari sisi tekstual dan  kontekstual.

2)    Empirik keilmuan dan rasional  filosofis yang hanya di gunakan  untuk menalar pesan-pesan Tuhan  yang absolute, baik melalui ayat-ayatnya yang bersifat tekstual ( al-Qur’an dan al-Hadis ), maupun ayat-ayatnya yang bersifat kontekstual( kauniyah ).

Dengan  metode kewahyuan , empiric  obyek kajian pendidikan Islam dapat dibagi menjadi tiga  wilayah :

1)    Pendidikan Islam  sebagai suatu sisitem ilmu

2)    Pendidikan Islam  sebagai suatu proses  belajar mengajar.

3)    Pendidikan Islam sebagai suatu lembaga/institusi ppenyelenggara pendidikan.

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Baqi,al-Mu’jam al-Mufahras, h. 119-20; dikutip dalam Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam ,Jakarta:Ciputat Press,2005.

 al-Qurtuby, ibnu  Abdullah Muhammad bin  ahmad al-Ansary, Tafsir al-Qurtuby, Juz I, kairo: Dar al-Sya’biy,tt; dikutip dalam Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam Jakarta:Ciputat Press,2005.

Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam ,Jakarta:Ciputat Press,2005.

Azra ,Azyumardi, Pendidikan Islam;Tradisi dan modernisasi menuju milennium baru ,Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 2002.

Bakhtiar ,Amsal,Filsafat Ilmu ,Jakarta:Raja Grafindo Perkasa, 2004.

Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjamahnya,Medinah Munawwarah:komplek percetakan Al-Qur’an Khadim al-Haramain al-Syarifain Raja Fahd,1991.

Jalaluddin,Teologi Pendidikan, Jakarta:Raja Grafindo Perkasa,2002.

Mujib ,Abdul dan Jusuf Mudzakir,Nuansa-nuansa psikologi Islam, Jakarta:Raja Grafindo Persada,2001.

Shihab ,Quraish, Wawasan al-Qur’an,Cet. VI;Bandung: Mizan,1997.

Surajiyo, filsafat ilmu,Cet. IV: Jakarta:Bumi Aksara, 2009.

Tadjab, et al,Dasar-dasar Kependidikan Islam ,Surabaya:Karya Aditama,1996.


[1]Tadjab, et al,Dasar-dasar Kependidikan Islam (Surabaya:Karya Aditama,1996), h. 1.

[2] Ibid.,h.2.

[3]Jalaluddin,Teologi Pendidikan(Jakarta:Raja Grafindo Perkasa,2002) h. 2.

[4] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam;Tradisi dan modernisasi menuju milennium baru (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 2002), h. 69-78.

[5] Ibid ,h 100.

[6]Jalaluddin, op. cit.h. 3.

[7] Ibid,

[8] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir,Nuansa-nuansa psikologi Islam(Jakarta:Raja Grafindo Persada,2001), h.70-73

[9] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Ciputat Press,2005), h. 23

[10] Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an(Cet. VI;Bandung: Mizan,1997), h. 278.

[11] Ibnu  Abdullah Muhammad bin  ahmad al-Ansary al-Qurtuby, Tafsir al-Qurtuby, Juz I( kairo: Dar al-Sya’biy,tt), h. 120; dikutip dalam Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Ciputat Press,2005), h. 23

[12]Quraish Shihab ,op. cit.,h.279.

[13] Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjamahnya(Medinah Munawwarah:komplek percetakan Al-Qur’an Khadim al-Haramain al-Syarifain Raja Fahd,1991),h..

[14] Ibid.h

[15] Al-Baqi,al-Mu’jam al-Mufahras, h. 119-20; dikutip dalam Al-Rasyidin dan Samsul Nizar,Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Ciputat Press,2005), h. 5.

[16] Ibid, h. 12

[17] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 14

[18] Departemen Agama R.I. op. cit.h.

Departemen Agama R.I. op. cit.h [19]

[20] Departemen Agama R.I. op. cit.h

[21] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 16.

[22] Departemen Agama R.I. op. cit.h.

[23] Ibid., h.

[24] Ibid., h.

[25] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 18

[26] Departemen Agama R.I. op. cit.h

[27] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 20

[28] Mohammad Irfan dan  Mastuki Hs,Teologi Pendidikan( Cet.,III;Jakarta:Friska Agung Insani, 2008), h. 149.

[29] Ibid.,h. 22

[30] Tadjab, et al,. op. cit.h. 15

[31] Departemen Agama, ,. op. cit.h.

[32] Tadjab, et al,. op. cit.h. 15

[33] Ibid., h. 17

[34] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 30.

[35] Tadjab, et al,. op. cit.h. 13.

[36] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, op. cit.h. 32.

[37] Tadjab, et al,. op. cit.h. 62-66..

[38] Amsal Bakhtiar,Filsafat Ilmu (Jakarta:Raja Grafindo Perkasa, 2004),h. 148.

[39] Surajiyo, filsafat ilmu(Cet. IV: Jakarta:Bumi Aksara, 2009), h.24.

[40] Ibid.,

[41] Azyumardi Azra , op. cit.h. 114.

[42] Ibid., h.40.

[43] Amsal Bakhtiar, , op. cit.h.158

[44] Al-Rasyidin , op. cit. h. 23


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: